Syaitan dibelenggu di bulan ramadhan?!

Assalamualaikum………

Ustads Abu Sangkan, Ustads Deka dan Bapak2 / Ibu2 yang saya hormati,
mohon penjelasanya mengenai hadist yang sangat populer dikalangan kami yang menyatakan bahwasanya syaitan di belenggu dan pintu neraka ditutup pada bulan ramadhan.
terimakasih banyak atas penjelasanya.

Wassalam…………
Iwan

__________________________________________

Alaikum salam mas Iwan…

Hadist tersebut memang sangat sering kita dengar setiap bulan Ramadhan datang. Namun untuk memahami hadist tersebut kita pakai pula ilmu pengetahuan kita sendiri, sehingga kita memahaminya seperti syaitan itu dibelenggu seperti seorang penjahat diikat. Kita kira syaitan itu jadi tidak bisa kemana-mana dan ngapa-ngapain lagi karena terikat. Kita bayangkan pula neraka itu adalah diakhirat sana. Tapi kok rasa-rasanya kita ini tetap saja seperti tidak bisa lepas dari dorongan-dorongan kearah yang tidak baik ??, keluh sebagian besar dari kita.

Padahal dalam hadist lain dikatakan bahwa : syaitan itu mengalir bersama darah kita sendiri “yajjrid daam”.

Menurut pemahaman saya, belenggu yang mengikat syaitan itu adalah KITA SENDIRI. Saat kita berpuasa, muncul dorongan-dorongan kearah yang tidak baik yang diistilahkan sebagai was-was dari syaitan, lalu kita SADARI bahwa kita sedang berpuasa, maka kita akan segera terlepas dari dorongan-dorongan yang tidak baik itu. Keadaan ini sama dengan terlepasnya kita dari dorongan rasa haus dan lapar dibulan puasa tersebut. Dihari-hari biasa diluar bulan puasa, jam 11:00-13:00 adalah saat-saat kita merasakan lapar dan haus yang lebih dari jam-jam yang lainnya. Kita akan merasa tersiksa kalau kita tidak makan dan minum pada jam-jam tersebut. Kita akan ditarik-tarik dan didorong-dorong oleh perut kita agar kita segera memenuhi apa yang diinginkan oleh perut kita tersebut, yaitu makan dan minum. Kita seakan-akan berada dalam kuasa sang perut.

Akan tetapi saat puasa ramadhan, kita seakan-akan bisa terpisah dari perut kita. Saat kita menyadari bahwa kita adalah puasa, maka hampir seketika itu pula kita akan merasa terpisah dari perut kita. Kita tidak dipengaruhi, ditarik, dan didorong lagi oleh rasa haus dan lapar. Kita tidak tersiksa lagi oleh rasa haus dan laparnya perut kita itu. Kita menjadi orang yang merdeka. Orang yang mampu melampaui hawa atau dorongan kehendak perut kita. Orang yang mampu memerintahkan perut agar tenang-tenang saja.

“Tenang sajalah wahai kau perutku, aku sedang ikut perintah Tuhanku nih. Saya sedang patuh kepada Tuhanku . Nanti diwaktu magrib keinginan kau terhadap makan dan minum itu akan kupenuhi”, hibur kita kepada sang perut kita dengan santun.

Begitu juga kita akan mampu melampaui mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki kita saat kita sedang melakukan puasa tersebut. Sehingga tatkala mata kita mendorong kita untuk melihat hal-hal yang tidak baik, tatkala telinga kita menarik kita untuk mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat, tatkala lidah kita ingin melontarkan kata-kata yang beracun dan berbisa, tatkala tangan dan kaki kita ingin bergerak melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak baik bagi diri kita maupun orang lain, lalu kita sadar bahwa kita tengah berpuasa, maka kita akan segera menjadi orang yang merdeka. Kita menjadi orang yang tidak tersiksa lagi seperti biasanya ketika kita mencoba menahan-nahan diri dari dorongan mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki kita kearah yang tidak baik (hawa un nafs).

“Hai mata, telinga, lidah, tangan, dan kakiku, kau tidak bisa lagi menarik-narikku kearah yang tidak baik seperti yang kau lakukan diluar bulan puasa selama ini kepadaku. Karena saat ini aku sedang puasa, aku sedang patuh kepada perintah-perintah Tuhanku”, perintah kita dengan tegas kepada semua instrumen kita itu.

Syaitan yang selama ini mengalir didalam darah kita, mengalir didalam perut kita, didalam mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki kita, seperti tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Syaitan tersebut seperti mati kutu. Dia terbelenggu dengan berhasilnya kesadaran kita keluar dari sekedar kesadaran ketubuhan kita saja. Ternyata kita ini adalah tuan terhadap diri kita sendiri. Selama ini kita seperti menjadi hamba dari tubuh kita itu.

Ya puasa seharusnya mampu meningkatkan kesadaran kita bahwa kita adalah tuan terhadap diri kita, bukannya hamba atau pesuruh dari tubuh kita sendiri. Dan kesadaran bahwa kita adalah tuan terhadap diri kita ini seharusnya bisa terus bertahan selamanya. Sesekali kita tingkatkan dalam puasa sunah senen-kamis, puasa daud, dan sebagainya.

Kalau sudah bertahan seperti ini, maka dalam shalatpun kesadaran kita tidak lagi ditarik-tarik oleh dorongan ketubuhan kita itu. Dalam shalat, kita tidak lagi mi’raj kepada dorongan-dorongan ketubuhan kita itu. Selama ini dalam shalat, kita mi’raj kepada apa-apa yang berada dalam penglihatan mata, kita mi’raj kepada suara-suara yang terdengar oleh telinga. Tapi hasil dari puasa yang bernas akan mampu membawa kita untuk hanya mi’raj ke Wajah Allah, inni wajjahtu wajhiya…!.

Namun sayang setelah puasa berlalu kebanyakan kita kembali menjadi hamba dari tubuh kita. Sehingga Rasulullah dari awal-awal sudah memperingatkan kita bahwa ada diantara kita nantinya yang saat berpuasa itu kita hanya sekedar mendapatkan haus dan lapar saja. Sehingga begitu puasa selesai, maka syaitanpun kembali berpesta pora didalam darah kita. Dan shalat kitapun kembali mi’raj kearah dorongan-dorongan ketubuhan kita. Ini adalah buah dari puasa yang tidak bernas saja sebenarnya.

Kemudian tentang ditutupnya pintu neraka juga tidak usah pula kita artikan bahwa neraka akhirat yang menyala-nyala seperti tungku penyiksaan yang maha besar tidak menerima lagi pesakitan-pesakitan baru untuk masuk kedalamnya. Kenapa segala sesuatunya tentang neraka itu selalu kita bawa kepada wilayah penyiksaan diakhirat sana???. Padahal neraka didunia ini saja sudah sangat menyakitkan dan menyiksa kita. Kita jarang sekali menyadari bahwa neraka yang sangat pedih siksanya juga ada didunia ini, yaitu didalam DADA kita sendiri. Dalam tulisan saya diawal-awal dulu, dada kita ini saya istilahkan sebagai Tungku Penyiksaan kita didunia ini.

Ya…, Tungku Penyikaan. Dimana kita akan bergerak dari satu siksaan ke siksaan berikutnya. Saat kita berada dalam tungku penyiksaan itu, beda pendapat akan menyiksa kita, beda agama akan menyiksa kita, beda kekayaan akan menyiksa kita, beda kedudukan akan menyiksa kita, beda partai akan menyiksa kita, beda aliran akan menyiksa kita. Karena memang saat itu kita tengah berada dalam menara gading keangkuhan dan sesombongan kita terhadap sesama manusia bahkan alam kehidupan kita sendiri. Aku lebih baik dari si A, Aku lebih kaya dari si B. Aku lebih benar dari si C . Aku lebih berkuasa dari si D. Aku lebih berkuasa dari alam, sehingga apapun bisa saya lakukan terhadap alam ini.

Ana khairuminhu…, tegas kita dengan angkuh meniru ungkapan keangkuhan iblis terhadap Adam, sehingga si iblispun selalu akan tersiksa oleh pengakuannya itu. Si iblis berada dalam tungku penyiksaannya sendiri yang abadi. Karena si iblis memang tidak akan pernah mau meluruhkan pengakuannya terhadap Adam.

Nah…, puasa ramadhan memberikan kita fasilitas yang amat mudah untuk kita bisa keluar dari tungku penyiksaan kita itu. Saat muncul perasaan sombong kita terhadap sesama manusia dan alam, kita langsung bisa keluar dari rasa sombong itu dengan mengingat bahwa saat ini saya sedang berpuasa. Hal ini sama mudahnya dengan kita keluar dari dorongan hawa perut, mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki seperti diatas.

Ya…, kita berada DIATAS rasa sombong dan angkuh itu. Kita keluar dari wilayah sombong dan angkuh itu, wilayah syaitan. Dan dengan sangat mengejutkan pula, kita akan secara otomatis pula keluar dari neraka yang ada di dalam dada kita itu. Seakan-akan untuk masuk kedalam tungku penyiksaan itu tertutup untuk kita masuki.

Sebagai gantinya, pastilah kita akan masuk ke ruangan kebahagian yang juga ada didalam dada kita. Itulah syurga dunia. Wilayah berkelimpahan kebahagiaan. Sebuah wilayah dimana para penghuninya akan selalu berbagi salam, berbagi rahmat, berbagi berkat. Sehingga yang ada adalah kegiatan untuk berlomba-lomba menuju kebaikan, fastabiqul khairat…. Semua perbedaan yang adapun akan menjadi rahmat semata, karena semua perbuatan baik pastilah akan menghasilkan kebaikan pula.

Bahkan di syurga dunia ini, di DADA KITA, beda agama sekalipun akan menjadi ladang bagi kita untuk saling mengenalkan Wajah Allah yang sesungguhnya dengan santun diantara sesama kita. Islam hanya mengajak umat manusia agar saat menyembah, memuja, berterima kasih, meminta, dan berdo’a kepada Tuhan, maka menghadaplah wajah kita TEPAT ke WAJAH TUHAN. Wahai manusia…, janganlah kita menghadapkan wajah kita kewajah patung, ke benda, kesuara, ke cahaya, ke frekuansi, ke suara, ke rupa, ke warna, dan sebagainya.

 

Laa…ilaha…, bukan semua wajah-wajah itu yang akan kusembah dan sungkemi, illallah…, tapi hanya ke Wajah Paduka saja ya Allah … aku menghadap, aku menyembah, aku sungkem”. Derrr…

Dan dengan seketika itu pula kita akan sampaikan kepada Allah bahwa: ternyata apa-apa yang disampaikan oleh Rasululah adalah benar. Benarlah Muhammad itu Rasul-Mu ya Allah…,
Muhammadan Rasululah…

 

 

Lalu perkuat saja kesaksian kita itu:

 

Asyhaduan laa ilaha illah

 

Wa asyhaduanna muhammadan rasulullan…


Jadi begitu puasa, kita punya kesempatan yang sangat besar untuk menutup sendiri pintu neraka buat diri kita, agar kita bisa dengan seketika masuk pula dedalam syurga didunia ini. Karena syurga dan neraka sudah ada pula didunia ini, yaitu didalam dada kita. Sedangkan syurga dan neraka diakhirat…, Aku Tidak Tahu…

Wass
Deka
sumber milinglist dzikrullah

Satu Tanggapan

  1. sesungguhnya setan ada di dalam dada manusia dan jin, manusia di ilhami sifat fasik dan taqwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: