ITS Ciptakan Silingops TNI AL

Satu lagi karya dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dimanfaatkan untuk angkatan perang. Kali ini ITS membuat Sistem Informasi Lingkungan Operasi (Silingops) TNI AL. Alat ini memudahkan kapal-kapal milik TNI AL yang sedang beroperasi di laut mengirimkan informasi ke markas.

Silingops buatan ITS ini sementara dipakai di wilayah Armada Barat (Armabar) TNI AL. “Sistem ini tersambung mulai dari Markas Besar TNI AL, pangkalan-pangkalan, hingga KRI (Kapal Republik Indonesia),” ujar Ir Bahtiar Hayat Suhesta, Ketua Tim Pembuat Silingops, kemarin.

Sebelum ada Silingops, sistem informasi di lingkungan TNI AL sangat sederhana dan makan waktu. Salah satu contohnya, dulu jika KRI yang sedang operasi di laut dan menangkap kapal asing, laporan yang dikirim ke pangkalan menggunakan sandi morse atau radio HF (High Frequency).

Begitu informasi sampai di pangkalan, harus diterjemahkan dulu oleh petugas, kemudian diketik ulang, dan diperbanyak sesuai jumlah komandan. Pengiriman ke Mabes juga masih memakai kurir atau paling cepat dengan faksimili. “Satu informasi saja bisa makan waktu 1-2 hari. Belum lagi waktu yang dibutuhkan Mabes untuk mengirim instruksi ke KRI,” katanya.

Dengan Silingops, informasi dari Kapal hingga ke Mabes, hanya butuh waktu 2-3 menit saja. Begitu KRI menangkap kapal asing yang masuk tanpa ijin, informasi langsung dikirim melalui pemancar ke Mabes. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi juga bisa dalam bentuk gambar maupun video.

Dengan cepat informasi yang diterima Mabes langsung disebarluaskan ke pangkalan-pangkalan. Instruksi dari Mabes juga bisa dikirim saat itu juga dalam waktu yang sama. “Ini sangat penting, karena dalam situasi tertentu, sangat berbahaya bila KRI harus menunggu lama instruksi dari pusat,” katanya.

Silingops juga dilengkapi dengan data-data hukum. Misalnya ada informasi dari KRI bahwa ada kapal asing mencuri ikan di wilayah Indonesia, maka Silingops akan melengkapi laporan itu dengan pasal-pasal atau perundang-undangan yang bisa dijeratkan kepada kapal asing tersebut. “Data itu selalu di-update setiap waktu,” kata dosen Jurusan Teknik Informatika ITS ini.

Selain membuat Silingops, sebelumnya Jurusan Teknik Informatika juga membuat software dan hardware Transmisi Data Air Situation (TDAS). Alat ini dipakai untuk memantau situasi udara. Sejak 2002, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) telah memanfaatkan alat buatan para dosen dan mahasiswa ITS ini.

Saat ini sudah 75 persen wilayah udara Indonesia terpantau dari alat ini. Terakhir dipasang TDAS di Makasar. “Tahun depan mungkin seluruh wilayah udara di Indonesia bisa dipantau. Sebab, Kohanudnas sudah merencanakan pemasangan transmisi baru di Biak,” kata Adi Sasongko, Ketua Tim TDAS.(tom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: