MELIHAT KELAHIRAN SANG JUMBO DI RADAR

Oleh : F. Djoko Poerwoko
Kamis pagi tanggal 25 Oktober, ruang monitoring Pusat Pengendalian Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) di Jakarta agak tegang, ada in-put point yang sulit dimasukkan ke data base penerbangan rutine hari itu. Tidak seperti biasanya Trasmisi Data Air Situastion (TDAS) kali ini menengarai ada perencanaan penerbangan yang “aneh” , meskipun code Flight Clearence dan Over Flaying telah dimasukkan tetapi sang alat tetap memberi warning yang bermakna terjadi perencanaan penerbangan diluar kebiasaan.

Data yang berasal dari perencanaan penerbangan dari Singapura ke Sydney yang dijadwalkan akan lepas landas pukul 07.00 Wib tanggal 25 Oktober 2007 tersebut tidak terbaca oleh SIKLOP atau Sistem Informasi (tentang) Kawan dan Lawan (dalam) Operasi. Lima digit angka yang hanya dimiliki Kohanudnas ini sebagai identification number selalu menolak, tidak seperti 352 perencanaan penerbangan lainnya pagi itu.

Memang hari itu Singapore Airlines akan menerbangkan sang Jumbo A-380 ke Sydney dengan special call sign yaitu SQ-380, angka inilah yang tidak dikenal oleh Siklop sehingga TDAS tidak dapat merubah ke dalam track-code yang sangat diperlukan dalam identifikasi selanjutnya. Meskipun dapat diatasi secara manual tetap saja sang Jumbo menarik perhatian operator di Popunas. Setidaknya mereka yang bertugas saat itu akan menjadi saksi kelahiran sang Jumbo yang mempunyai serial number MSN-003 lahir di ruang udara Indonesia dan akan terlihat dalam layar monitor.

“God morning Jakarta, SQ-380 climb to FL 370 ….…..” suara Capt Robeth Thing dari balik cocpit A-380 tepat pukul 07.26 Wib. Sapaan sang captain yang ramah seolah olah menandai kelahiran sang Jumbo dalam penerbangan ke Sydney yang akan ditempuh selama 7 jam 30 menit dimana selama separuhnya berada diruang udara Indonesia. Sudah selayaknya sang Jumbo mendapat pelayanan baku dan ditengarai sebagai friendly dalam system Pertahanan Udara Nasional. Kali ini SQ-380 yang melaju pada kecepatan 550 Kts mendapat tatapan mata delapan personil Popunas yang melihat dari layar monitor serta mengamankan jalur jang akan dilewati mulai titik SANOS hingga titik ATMAP pada koordinat 12.00.xxxS / 110.15.xxxE ditengah samudera Hindia.

Rekayasa Sendiri.

Kali ini personil Popunas dapat mengikuti penerbangan SQ-380 dari layar monitor berkat rekayasa yang dibuat bangsa Indonesia sendiri. Setelah dirancang tahun 1995, baru pada tahun 2004 secara resmi TDAS dioperasikan guna memonitor wilayah udara Nasional secara terpadu. Masukan data yang dipasok dari radar Sipil dan radar Hanud ini terkirim lewat jaringan antenna V-Sat plus2 ke Popunas, tentunya setelah protocol kedua jenis radar disamakan.

Penguraian protocol yang tidak mampu dilakukan oleh pabrik dimana radar kita beli, memaksa para tehnisi yang terdiri dari personil Kohanudnas dan akademisi salah satu Perguruan Tinggi kita membuat protocol yang dikenal baik oleh radar Sipil maupun Militer. Hasil ini memungkinkan antara radar Sipil dan Militer dapat berkuminikasi, selain ampat unit radar Militer yang masih analog.

Namun proyek digitally yang dimotori Kohanudnas sejak tahun 2005 juga berhasil dilakukan, diharapkan akhir tahun 2008 semua jaringan radar di Indonesia termasuk ampat yang analog dapat masuk jaringan TDAS. Langkah maju ini setidaknya menepis tawaran fihak asing yang mematok harga hampir sepuluh kali lipat dari dana yang dikeluarkan pemerintah dalam integrasi radar Sipil dan Militer diseluruh Indonesia. Sepertinya dugaan keberadaan broker senjata yang disinyalir Menhan baru baru ini nyata adanya.

Integrasi dan digitally ini juga sejalan dengan konsep pertahanan udara di Indonesia yang dirancang untuk melindungi obyek vital nasional. Konsep defence in deep ini bermakna obyek yang dilindungi dipertahankan secara berlapis mulai dari lingkaran dalam yang dikenal dengan pertahanan titik, pertahaan terminal dan pertahanan area.

Yang jelas kelahiran sang Jumbo A-380 milik Singapore Airlines di ruang udara nasional tanggal 25 Oktober pagi kemarin dapat terlihat dari layar monitor berkat rekayasa system yang kita kembangkan sendiri. Bagi petugas Popunas hari itu bukan hanya bangga telah dapat ikut mengamankan asset negara tetangga jutaan dollar lewat diruang udara nasional dengan aman.

Meraka juga bangga karena sarana monitoring tersebut rekayasa bangsa sendiri, kebanggan ini ditambah kelegaan setelah pada pukul 14.25 Wib system TDAS menengarai “Big Fela” nama sang Jumbo mendarat dengan aman di Sydney, Kingstone Smith Airport. Secara otomatis pula data penerbangan ini akan tersimpan minimal satu tahun di Kohanudnas berkat jaringan TDAS seperti data penerbangan lainnya.

F. Djoko Poerwoko
Pemerhati Penerbangan

sumber : http://www.motahu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: