Melindungi Ruang Udara Indonesia

Komando Pertahanan Udara Nasional kembali menampilkan peralatan sistem pengawasan wilayah udara nasional kepada publik. Alat ini sangat membantu Kohanudnas melaksanakan tugas pokoknya sebagai penyelenggara pertahanan dan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional dalam usahanya menjaga segala aset dan kepentingan nasional.

Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) menampilkan peralatan kebanggaannya ini sebagai bagian dari Paviliun TNI AU di pameran akbar Persatuan Nasional di Istora Senayan. Pameran yang berlangsung mulai tanggal 19 hingga 24 Agustus ini memang menampilkan format pameran gado-gado.

Uniknya, masyarakat bisa melihat kecanggihan teknologi pengamatan udara bersebelahan dengan paviliun yang menjual produk obat-obatan atau kerajinan tradisional. Pameran yang dibuka oleh Presiden Megawati ini memang menarik minat banyak pengunjung, mulai dari pelajar taman kanak-kanak hingga para anggota DPR yang terhormat.

Khusus untuk stan Kohanudnas, para pengunjung ini dengan antusias menanyakan bagaimana kejadian sesungguhnya dari insiden Pulau Bawean, saat pesawat-pesawat F-16 Indonesia berhadapan dengan pesawat-pesawat F-18 US Navy di Laut Jawa bulan lalu. Di sini, semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan tuntas dan memuaskan rasa ingin tahu pengunjung.

BANYAK pengunjung pameran belum tahu bahwa operasi pertahanan udara dilaksanakan setiap saat selama 24 jam terus-menerus, dalam kondisi negara terancam ataupun kondisi aman.

Dalam kondisi negara aman, operasi pertahanan udara lebih dititikberatkan pada pengamatan udara, baik oleh radar militer dan radar penerbangan sipil. Namun, dalam situasi di mana negara mendapatkan ancaman, operasi ini dilaksanakan untuk mencegah lawan menerobos masuk wilayah udara Indonesia. Semua sistem senjata mulai dari radar, pesawat penyergap,peluru kendali (rudal) antipesawat, sampai meriam antipesawat udara, disiagakan menghadang pesawat lawan.

Penggelaran Radar Militer saat ini dirasa masih belum mampu mengawasi seluruh wilayah udara Indonesia. Para pakar sistem radar TNI AU mengetahui sistem radar penerbangan sipil secara teknis dapat digunakan sebagai komplemen sistem radar pertahanan udara atau sebaliknya. Namun, mereka juga tahu bahwa fungsi dan protokol data komputer radar dari pabrikan yang berbeda membuat integrasi adalah hal yang tidak mudah.

Berdasarkan masukan dari para pakar sistem radar ini, Panglima Kohanudnas dengan dukungan penuh dari pimpinan Mabes AU, Mabes TNI, serta Dephankam memutuskan untuk memulai riset dan pengembangan integrasi radar sipil-militer. Tujuannya hanya satu, mewujudkan cita-cita besar, impian untuk mengintegrasikan seluruh sistem radar agar menjadi suatu jaringan radar yang saling mendukung dalam operasi pertahanan udara nasional.

Tujuan integrasi sistem radar ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan jumlah lalu lintas udara yang melewati wilayah udara nasional. Hal yang wajar karena wilayah udara nasional adalah aset negara dengan nilai strategis di bidang ekonomi dan pertahanan keamanan.

Sebagai aset strategis, wilayah udara nasional harus dilindungi dan diberikan jaminan keselamatan dan keamanan bagi siapa pun yang memanfaatkannya. Integrasi radar ini akan memberikan kontribusi besar dalam upaya negara menguasai, mengendalikan, dan memberikan jaminan keamanan bagi pengguna wilayah udara nasional Indonesia.

KOHANUDNAS menggunakan Sistem Transmisi Data Air Situation (TDAS) untuk membantu mengamati ruang udara nasional, sehingga lalu lintas penerbangan di wilayah udara nasional dapat dipantau secara real time. Peralatan ini merupakan sebuah langkah berani di tengah kelesuan penyediaan suku cadang radar.

Selain itu, penggunaan komponen COTS (component of the shelf) yang banyak ditemui di pasaran secara umum akan memudahkan perawatan sistem, yang pada akhirnya akan mendukung pengoperasian sistem.

Dalam rencana panjang ke depan, Kohanudnas bersama jajarannya dan institusi penerbangan sipil akan menjadi partner link up dalam kerja sama sipil-militer memantau secara keseluruhan wilayah udara nasional meliputi pengendalian penerbangan nonregular, dan pemanfaatan radar pengamatan udara yang selama ini dioperasikan terpisah oleh otoritas sipil dan militer.

Sejarah sistem Transmisi Data Air Situation (TDAS) dimulai pada pertengahan tahun 1995 dengan diawalinya penelitian data radar militer yang dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya bekerja sama dengan para pakar radar Kohanudnas. Penelitian tersebut terarah pada bagaimana informasi situasi udara tergambar dalam data radar, dan bagaimana “percakapan” (atau dikenal dengan protokol) antara peralatan radar dan pemrosesnya saling berkomunikasi.

Fokus dari kegiatan penelitian ini adalah membongkar pola digital penempatan kode-kode informasi situasi udara yang tercantum dalam aliran data yang dihasilkan oleh perangkat pemrosesan data radar.

Berbekal dokumentasi yang hampir tidak dapat ditemukan mengenai pemetaan informasi protokol tersebut, dengan ketekunan dan dengan semangat pantang menyerah para peneliti muda dari ITS Surabaya pelan-pelan mulai dapat menemukan kandungan informasi penting dalam data radar seperti ketinggian pesawat, posisi, kecepatan, dan arah pergerakan pesawat.

Berawal dari satu jenis radar militer buatan Perancis, penelitian kemudian bergerak menuju jenis radar militer lain buatan Inggris, dan berbagai jenis radar yang digunakan oleh stasiun radar sipil.

PADA tahun 1997, keseriusan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti muda ITS Surabaya dengan dukungan sepenuhnya dari jajaran Kohanudnas mendapat kesempatan untuk menampilkan karyanya pada sebuah pameran militer yang diselenggarakan bersama Angkatan Bersenjata Australia di Balai Sudirman Jakarta. Pada pameran tersebut, tergelar secara “life”, pergerakan pesawat yang ditangkap dari dua buah radar militer yang berbeda jenisnya.

Perubahan peta politik dan perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak begitu baik pada tahun-tahun berikutnya tidak menghilangkan semangat para ahli radar Kohanudnas serta pakar muda ITS Surabaya untuk tetap berusaha berkarya membantu Kohanudnas dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya.

Pada masa krisis ekonomi mencekam bangsa Indonesia, komunikasi antara ITS Surabaya dan Kohanudnas tetap terjalin dengan baik sehingga terkumpullah butiran-butiran kebutuhan yang semakin lama semakin mengkristal dan menjadi jelas untuk melahirkan sebuah karya nyata bagi bangsa Indonesia.

Kesempatan pertama yang menjadi embrio terwujudnya Sistem TDAS ini adalah dipercayanya ITS Surabaya untuk membantu mewujudkan sebuah sistem koordinasi Flight-plan/Flight-security-clearance yang digunakan di lingkungan Departemun Luar Negeri-Departemen Perhubungan-Departemen Pertahanan.

Dengan berhasilnya implementasi sistem ini pada waktu yang relatif singkat, dan sekali lagi berkat dukungan sepenuhnya dari Markas Besar TNI, Mabes TNI AU dan Kohanudnas sebagai penggunanya, pada akhir tahun 2001 mulailah dibangun dan digelar sistem TDAS.

Sistem TDAS ini merupakan sebuah terobosan dengan mengintegrasikan radar-radar sipil untuk menambah cakupan (coverage) radar-radar militer yang telah dimiliki oleh TNI. Radar-radar sipil yang fungsi utamanya sebagai alat navigasi udara oleh otoritas penerbangan sipil tidak menggantikan fungsi radar militer. Akan tetapi, menjadi komplemen bagi cakupan wilayah udara yang menjadi target pantauan Kohanudnas.

Penambahan cakupan wilayah pantauan dengan radar sipil ini menjadi penting, karena untuk penambahan lokasi radar militer dalam fungsinya menjaga wilayah udara RI memerlukan biaya yang tidak sedikit.

DENGAN adanya integrasi radar sipil dan militer, Sistem TDAS yang tergelar di Kohanudnas menjadi sebuah sistem yang tidak hanya menampilkan gambar kumpulan pulau-pulau di kepulauan Nusantara yang dilengkapi dengan informasi situasi udara nasional. Akan tetapi, juga menjadi alat bantu operasi pertahanan udara yang mempunyai kemampuan untuk merekam segala pergerakan benda di udara yang tertangkap oleh radar militer dan radar sipil.

Dengan demikian, pada suatu titik penting saat dibutuhkan, Sistem TDAS ini dapat menampilkan kembali hasil rekaman pergerakan yang telah tertangkap oleh kedua radar tersebut untuk dapat menjadi sebuah alat pembuktian terhadap terjadinya tindak pelanggaran terhadap batasan-batasan wilayah udara Indonesia.

Sekali lagi kenyataan ini menegaskan bahwa Sistem Transmisi Data Air Situation (TDAS) telah menjadi instrumen penting bagi Kohanudnas dalam menegakkan kedaulatan wilayah udara nasional dan membela kepentingan nasional.

May Pnb Agung “Sharky” Sasongkojati Pgs Ka Popunas, Executive Member Aerospace Center Of Indonesia

sumber :kompas.com

Satu Tanggapan

  1. Om, mw tanya necch….
    gmn kedaulatan RI d liat bdr hkm angkasanya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: