Mengharap Handset CDMA Seperti Handset GSM

Hampir semua operator CDMA baru di dunia, terutama yang muncul di lingkungan pasar yang berteknologi GSM, menghadapi situasi yang sulit untuk masalah terminal. Pasar yang ada sudah dulu terbentuk dengan teknologi GSM dimana pengguna dengan mudahnya dapat melakukan provisioning layanan GSM.

Calon pelanggan bisa membeli handset dimana saja dan membeli kartu Subscriber Identity Module (SIM) perdana yang disukai, masukkan ke handset dan beberapa saat kemudian sudah bisa menikmati layanan. Semua parameter yang diperlukan untuk meng-acquire sistem jaringan GSM sudah dipindahkan ke dalam kartu SIM.

Gambar 1. Terminal Videophone[1]

Tidak demikian halnya dengan teknologi CDMA, dimana prosedur untuk provisioning harus dilakukan bersamaan dengan pendaftaran Electronic Sequence Number (ESN) ke customer service operator. Untuk itu calon pelanggan harus melakukan setting parameter agar terminal yang digunakan dapat meng-acquire jaringan CDMA. Ini tidak praktis dan merepotkan calon pelanggan untuk mendaftar sebagai pelanggan. Apalagi setting parameter itu sendiri tidak mudah bahkan bagi seorang engineer pun dan tiap terminal berbeda–beda bagaimana mengakses service programing code (SPC), yaitu suatu kode untuk mendapatkan akses dalam mengubah parameter.

Dua Dunia Yang Berbeda

Antara GSM dan CDMA memang berasal dari dunia yang berbeda, dimana satunya berasal dari daratan Eropa dan lainnya dilahirkan dari Amerika Utara. Awal mula lahirnya GSM dimulai pada tahun 1982 ketika pada pertemuan para menteri telekomunikasi Eropa (European Conference of Postal and Telecommunications Administration – CEPT) di Perancis, menyetujui dipilihnya suatu teknologi telekomunikasi bergerak yang mampu mengakomodasi kepentingan negara – negara anggota[2]. Diantara yang menjadi sorotan utama sebagai syarat sistem telekomunikasi tersebut adalah pertama dapat digunakan untuk bergerak meskipun keluar dari satu negara dan masuk ke negara yang lain, berganti – ganti operator atau roaming. Sedangkan syarat lainnya adalah sistem mempunyai kemudahan dalam provisioning atau bagaimana calon pelanggan dapat menjadi pengguna layanan.

Kondisi negara – negara di Eropa rata – rata mempunyai wilayah relatif kecil, sehingga bila seorang pelanggan bepergian dari negara satu ke negara lainnya agar ia tetap terhubung dengan jaringan maka pelanggan harus bisa roaming ke operator di negara yang bersangkutan. Untuk itu teknologi tersebut harus disetujui sebagai sistem yang diadopsi bersama oleh negara – negara yang bertetanggaan tersebut. Syarat kedua untuk menjawab bahwa pada saat itu yang namanya handset telekomunikasi bergerak masih besar dan beratnya bisa lebih dari satu kilogram tidak seperti sekarang yang rata – rata antara 85 hingga 115 gram. Adalah merepotkan menenteng terminal dan charger yang besar ketika traveling. Untuk itu dimungkinkan seorang pelanggan dari negara Perancis ketika bepergian ke Inggris hanya membawa suatu kartu identitas yang direpresentasikan dengan kartu SIM dan ketika sampai di negara tujuan dapat meminjam terminal ke tempat persewaan terminal. Maka lahirlah sistem GSM yang bisa roaming antara operator dengan kartu SIM.

CDMA lahir di negara yang mempunyai wilayah luas dan tidak diperlukan roaming antar operator sesering di negara Eropa. Yang menjadi perhatian utama operator jaringan adalah mampu mencakup wilayah layanan luas, kapasitas dan sekuriti sistem. Didukung pula oleh subsidi handset oleh operator yang bersangkutan sehingga tidak terlalu sulit bagi calon pelanggan yang ingin menikmati layanan telekomunikasi bergerak karena begitu ia membeli handset secara otomatis sudah dilakukan provisioing layanan. Dengan demikian teknologi CDMA tidak terlalu risau dengan masalah calon pelanggan dalam provisioning dan tidak terpikirkan bahwa para pelanggan harus berganti – ganti operator karena tidak terjadi di sana. Akhirnya operator CDMA yang lama biasanya melakukan pembelian handset sekaligus sebagai paket untuk berlangganan layanan.

Rezim Sertifikasi

Semua operator GSM dunia akan menjadi anggota GSM Asociation (GSMA) secara otomatis. Selain mengatur masalah roaming antar operator GSM dunia, GSMA juga mempunyai otoritas melakukan sertifikasi handset GSM yang dibuat oleh manufaktur untuk dijual ke anggota GSMA. Itu yang membuat mengapa handset GSM mempunyai kemampuan yang relatif sama dan kualitas bagus meskipun berbeda manufaktur. Meskipun di negara lain seperti Inggris dan Singapura, operator GSM memberlakukan pembelian terminal untuk pelanggannya namun bagi operator GSM di Indonesia tidak masalah ketika menerapkan pasar bebas. Semua handset GSM dapat digunakan untuk menjadi pelanggan di operator manapun.

Di lingkungan teknologi CDMA, karena hampir semua operator yang ada melakukan pembelian terminal maka operator dapat mengendalikan kualitas terminal yang akan digunakan oleh para calon pelanggannya dengan menentukan spesifikasinya terlebih dahulu kemudian diserahkan kepada manufaktur untuk diproduksi. Sebagai contoh operator seperti Sprint PCS di Amerika dan South Korean Telecom (SK Tel) di Korea Selatan, menjalin kerjasama dengan Samsung untuk penyediaan handset yang akan digunakan kepada calon pelanggannya. Ketika operator CDMA di Indonesia menerapkan kebijaksanaan seperti halnya operator GSM, yaitu dengan membebaskan calon pelanggan membeli handset sendiri, mereka menghadapi masalah besar mulai dari awal setting parameter hingga kualitas terminal yang buruk. Hal ini karena belum ada rezim yang mampu memaksa para vendor handset CDMA untuk melakukan sertifikasi sebelum dilempar ke pasar.

Terminal IS-95 dan CDMA 2000

Evolusi terminal CDMA dari teknologi IS-95 ke teknologi CDMA 2000 sangatlah signifikan. Mulai dari perubahan kanal pensinyalan, jumlah kanal yang digunakan, modulasi hingga kecepatan data yang bermuara pada kemampuan layanan yang bisa didukung. Di dalam penggunaan kanal perbedaan antara sistem CDMA IS-95A/B dengan CDMA2000 1X adalah seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Perbandingan sistem IS-95A/B dengan IS-2000

Sistem infrastruktur CDMA2000 mendukung layanan baik pengguna menggunakan terminal IS-95 maupun IS-2000 yang berada di dalam wilayahnya (backward compatible). Karena sistem CDMA2000 mendukung Protocol Revision 3 dan 4 (untuk mendukung terminal IS-95 A dan B) dan Protocol Revision 6, untuk mendukung terminal IS-2000. Namun demikian infrastruktur CDMA2000 akan mempunyai kemampuan yang optimal bila semua terminal yang dilayaninya menggunakan Protocol Rev 6. Terminal IS-95 A/B yang belum mendukung kanal Quick Paging Channel (QPCH) akan lebih cepat boros dalam konsumsi batere dan lebih lambat responnya ketika di-paging oleh sistem. Terkadang karena belum mendukung power control yang baik, terminal IS-95 A/B akan memberikan interferensi yang buruk bagi base station sehingga mengganggu sistem.

Industri telekomunikasi wireless berbasis CDMA sangat bergantung pada teknologi chipset, berfungsi sebagai pengolah dari sinyal base band hingga Radio Frequency (RF) dan sebaliknya, yang hak intelektualnya dikuasai oleh Qualcomm, Inc. Chipset pengolah ini dipasang di sisi terminal yang dikenal sebagai Mobile Station Modem (MSM) dan di sisi base station yang dikenal dengan Cell Station Modem (CSM). Pada dasarnya perbedaan paling mendasar dari teminal CDMA IS-95 A/B dengan CDMA2000 juga dapat dilihat dari chipset yang digunakan. Sehingga dimungkinkan terminal CDMA IS-95 A/B di-upgrade menjadi terminal CDMA2000.

Gambar 2 Terminal IS-95 A/B dapat diupgrade ke IS-2000[3]

Sistem terminal IS-95 A/B yang telah di-upgrade menjadi terminal IS-2000 boleh jadi dapat dengan baik meng-acquire sistem. Namun dari sisi komponen pendukung seperti keypad, speaker, display dan antarmuka input output lainnya sudah tidak mendukung. Bila hal ini tetap berada di pasar maka layanan yang dirasakan oleh pelanggan akan tidak memenuhi kepuasan yang diharapkan.

CCF dan CDG GHRC

Sebenarnya sejak Maret 2004, di Bali, Indonesia telah terbentuk forum komunitas CDMA yaitu CDMA Certification Forum (CCF) yang merupakan kerjasama antara vendor dan operator penyedia jaringan untuk menyusun dan membangun proses sertifikasi agar dapat menjamin terminal berkualitas dan compatible secara global. Kalau CCF menangani tentang bagaimana proses sertifikasinya, maka Global Handset Requirement for CDMA (GHRC) yang berada di bawah CDG menjadi dokumen kebutuhan dan spesifikasi terminal (handset) agar dapat sesuai pasar dan operator penyedia jaringan. Anggota GHRC merupakan perwakilan dari vendor dan operator serta lembaga lainnya.

Apabila kedua lembaga ini efektif maka proses sertifikasi dan kualitas terminal yang masuk ke pasar CDMA diharapkan menjadi lebih kompatibel dengan jaringan CDMA yang disediakan operator. Masalah terminal yang tidak berkualitas dijual di pasar seperti antena penerima yang tidak sensitif, keypad yang tidak standar, speaker lemah, dan aplikasi yang tidak berfungsi baik, dan yang lainnya segera teratasi. Pada pertemuan terakhir di Sao Paolo, Brazil (14-15 Juli 2005), CCF telah menyatakan bahwa mulai awal 2006 sudah mulai melakukan sertifikasi terhadap terminal yang dikembangkan oleh para vendor.

Sebenarnya apa yang dicakup dalam sertifikasi handset yang akan dilakukan oleh CCF, mungkin masih jadi pertanyaan pembaca. Test plan untuk menguji handset yang akan dirilis ke pasar yang telah disetujui adalah C.P0058 dan CDG 64-based, dimana mencakup 2 bagian besar yaitu kemampuan interoperabilitas ke jaringan dan stabilitas & unjuk kerja handset. Didalamnya mencakup pengujian untuk handof, power control, fitur, kemampuan data paket dan sirkit, kemampuan 1xEV-DO dan fungsi lain termasuk pensinyalannya.

Prediksi Pasar GSM dan CDMA Ke Depan

Dalam tempo kurang dari 3 tahun performansi TELKOMFlexi sebagai operator CDMA2000 telah mendapatkan pelanggan 3,5 juta. Selain itu operator CDMA2000 lain seperti Mobile8, Esia dan StarOne juga mulai gencar memperebutkan pasar di Indonesia yang masih terbuka dan masih jauh dari titik jenuh[4], karena densitas telepon masih sekitar 19% dari total fixed dan seluler. Pasar yang sedang diperebutkan adalah pasar yang tersisa dari pasar yang sudah diambil oleh operator GSM yang lebih dulu ada, lebih menguasai cakupan nasional dan punya mobilitas penuh. Tidak dipungkiri pasar ini adalah pasar kelas menengah bawah yang rata – rata masih sensitif terhadap biaya. Dengan struktur biaya yang lebih murah, para operator CDMA punya daya saing yang kuat untuk merebut pasar ini, sedangkan dari sisi kualitas layanan dan aplikasi yang diberikan juga tidak kalah malah ada beberapa layanan yang lebih unggul seperti kemampuan data paket, bila dibanding layanan yang diberikan operator GSM.

Selain itu tidak seperti terminal CDMA di negara lain, kecuali China, pelanggan telepon wireless CDMA di Indonesia dapat berganti – ganti terminal sesuai keinginannya seperti apa yang dilakukan ketika berlangganan di GSM, karena sudah menerapkan (Removable User Identity Module) RUIM layaknya SIM di sistem GSM. Diperkirakan ke depan pasar terminal CDMA akan makin marak dan bergairah dengan kondisi di atas apalagi vendor – vendor terminal besar seperti Nokia, Motorola dan Samsung serius untuk bermain di pasar ini. Dengan makin banyaknya pelanggan dan vendor yang memasarkan produk terminalnya ke pasar Indonesia, akan membuat harga turun dan ketersedian terminal lebih besar .

Sikap Operator

Untuk menjamin adanya terminal yang memenuhi persyaratan dan terhindar dari masalah di atas diperlukan suatu seritifikasi terhadap terminal sebelum dilempar ke pasar terutama di pasar yang menerapkan liberalisasi seperti di Indonesia. Hal ini untuk menjamin persyaratan elektrikal, kemampuan sistem dan fungsional terminal dapat dipenuhi sehingga memberikan layanan dengan kualitas baik.

Ada dua metode yang bisa ditempuh oleh operator wireless di Indonesia:

Pertama adalah dengan membeli terminal dari vendor.

Dengan membeli terminal dari vendor operator dapat mengendalikan persyaratan yang dibutuhkan sehingga terminal yang diberikan kepada pelanggan terjamin kualitasnya.

Kedua adalah menjadi anggota dan sekaligus mengikuti sertifikasi yang dilakukan oleh CDMA Certification Forum (CCF).[5]

Kesimpulan

Terminal adalah sisi penting bagi operator jaringan wireless dalam memberikan layanan yang handal. Karena sebaik dan seindah apapun infrastruktur dan layanan yang ditawarkan operator tidak akan berarti bila ketersediaan terminal yang handal dan harga terjangkau tidak bisa diperoleh oleh pelanggan. Untuk itu sudah seharusnya bagi operator untuk mengalokasikan dana dan unit khusus yang menangani terminal bila ingin berhasil dalam layanan.

Hazim Ahmadi, Penulis merupakan seorang engineer di Lab. Wireless Access TELKOMRIsTI. Penulis adalah seorang anggota CDMA Development Group (www.cdg.org) sebagai salah satu anggota tim Global Handset Requirements for Handset (GHRC) yang bertanggung jawab terhadap pengembangan persyaratan spesifikasi dan standardisasi terminal CDMA secara global. Penulis juga merupakan salah satu anggota Steering Committee of CDMA Certification Forum (www.globalccf.org) yang bertanggung jawab terhadap proses sertifikasi untuk handset CDMA secara global.

Referensi:

1. EVDO services, SKTEL, Introduction to CDMA2000 and its migration, Qualcomm, April 2005

2. 3G Wireless Networks, Clint Smith and Daniel Collins, McGraw Hill, Newyork, 2002

3. Chipset, RUIM and Security, Hazim Ahmadi, Materi Jawara D, TELKOM Training Center, 2004.

4. CDMA Certification Froum (CCF), www.globalccf.org.

5. CDMA Development Group (CDG); www.cdg.org.


[1] EVDO services, SKTEL, Introduction to CDMA2000 and its migration plans, Qualcomm, 2005

[2] 3G Wireless Networks, Clint Smith and Daniel Collins, McGraw Hill, New York, 2002

[3] Chipset, RUIM and Security, Hazim Ahmadi, Materi Jawara D, TELKOM Training Center, 2004

[4] Beberapa sumber menyebut titik jenuh pasar mulai terjadi di 40% dari jumlah penduduk

[5] CDMA Certification Froum (CCF), www.globalccf.org

sumber : http://www.ristishop.com

Satu Tanggapan

  1. Thanks Mas Charles. Telah mengadopsi tulisan saya. Masih banyak tulisan yang deeply technical seputar wireless murni hasil pemikiran dan pengalaman saya selama lebih 12 tahun menggeluti dunia wireless.
    Hazim AHMADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: