Lagi Ngoprek Radar di KOHANUDNAS III AURI

Wah lama gak update nih blog, sampai gak terurus hehe.. sempetin nulis nih..

Pertahanan udara kita sudah dibilang canggih, semua pesawat yang terbang di atas

wilayah udara RI sudah bisa kita pantau dengan peralatan canggih dan karya anak

bangsa kita sendiri, fitur-fitur dan kemampuan juga tidak kalah dengan buatan Perancis

sekalipun, kita patut bangga dengan semua ini, mudah-mudah kedepan ini bakal

menjadi cikal bakal kemajuan peralatan system pertahanan udara kita.

Baca lebih lanjut

Iklan

IMSS di Selat Malaka

Dari keseluruhan 250 selat yang ada di dunia, Selat Malaka dikenal sebagai satu di antara 13 selat paling strategis dan bernilai komersial yang sangat tinggi di dunia. Dua belas selat lainnya adalah Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Denmark, Osumi-kaikyo, Selat Dover, Selat Gibraltar, Bab el Mandeb, Selat Hormuz, Selat Balabac, Selat Surigao, Selat Bering, dan Selat Magellan.
Selat Malaka yang panjangnya 500 mil merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan China. Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2003, jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari China. Oleh karena lebar Selat Malaka hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu Terusan Phillips di Selat Singapura, ia merupakan salah satu dari kemacetan lalu lintas terpenting di dunia.

Semua faktor tersebut menyebabkan kawasan itu menjadi sebuah target pembajakan dan kemungkinan target terorisme. Pembajakan di Selat Malaka menjadi masalah yang mendalam akhir-akhir ini, meningkat dari 25 serangan pada 1994 hingga mencapai rekor 220 pada 2000. Lebih dari 150 serangan terjadi pada 2003. Jumlah ini mencakup sekitar sepertiga dari seluruh pembajakan pada 2003.
Frekuensi serangan meningkat kembali pada paroh awal 2004, contohnya saja, 93 kasus pembajakan terjadi di perairan Indonesia, 9 kasus di Malaysia dan Singapura 8 kasus dan angka total dipastikan akan melebihi rekor tahun 2000. Sebagai tanggapan dari krisis ini, angkatan laut Indonesia, Malaysia dan Singapura meningkatkan frekuensi patroli di kawasan tersebut pada Juli 2004.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Slamet Soebijanto mengemukakan, sistem pengamanan maritim terpadu atau Integrated Maritime Security System (IMSS) di Selat Malaka akan segera dilakukan sehingga pengamanan di wilayah perairan itu dapat diwujudkan secara lebih terpadu. “Kemungkinan itu akan dilaksanakan mulai tahun depan”, katanya, kepada ANTARA usai mendampingi Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, di Jakarta, belum lama ini.
la mengatakan, pemberlakuan IMSS bertujuan meyakinkan dunia Internasional bahwa Indonesia bersama tiga negara lainya yakni Malaysia, Singapura dan Thailand mampu mengamankan Selat Malaka.

Baca lebih lanjut

MELIHAT KELAHIRAN SANG JUMBO DI RADAR

Oleh : F. Djoko Poerwoko
Kamis pagi tanggal 25 Oktober, ruang monitoring Pusat Pengendalian Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) di Jakarta agak tegang, ada in-put point yang sulit dimasukkan ke data base penerbangan rutine hari itu. Tidak seperti biasanya Trasmisi Data Air Situastion (TDAS) kali ini menengarai ada perencanaan penerbangan yang “aneh” , meskipun code Flight Clearence dan Over Flaying telah dimasukkan tetapi sang alat tetap memberi warning yang bermakna terjadi perencanaan penerbangan diluar kebiasaan.

Data yang berasal dari perencanaan penerbangan dari Singapura ke Sydney yang dijadwalkan akan lepas landas pukul 07.00 Wib tanggal 25 Oktober 2007 tersebut tidak terbaca oleh SIKLOP atau Sistem Informasi (tentang) Kawan dan Lawan (dalam) Operasi. Lima digit angka yang hanya dimiliki Kohanudnas ini sebagai identification number selalu menolak, tidak seperti 352 perencanaan penerbangan lainnya pagi itu.
Baca lebih lanjut

Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Pertama TNI Pandji Utama membuka System Transmisi Data Air Situation (TDAS)

Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Pertama TNI Pandji Utama membuka secara resmi Pendidikan Kualifikasi Khusus TDAS angkatan ke III tahun 2007 bertempat di Aula Leo Watimena Kohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (23/10).

Dalam sambutannya Kas Kohanudnas menyatakan bahwa System Transmisi Data Air Situation (TDAS) muncul pertama kali pada pertengahanan tahun 2005 dengan dimulainya penelitian data radar militer yang dilakukan PT. ITS Surabaya bekerjasama dengan para pakar radar Kohanudnas. Penelitian tersebut terarah pada bagimana informasi situasi udara tergambar dalam data radar, dan bagaimana percakapan antara peralatan radar dan prosesnya saling berkomunikasi.

Bertitik tolak pada hal tersebut, Kohanudnas dengan tugas pokoknya menyelenggarakan pertahanan dan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional, menggunakan sistem TDAS ini untuk membantu mengamati ruang udara nasional, sehingga lalulintas penerbangan di wilayah udara nasional dapat dipantau secara real time.

Baca lebih lanjut

ITS Tawarkan Radar Sebagai Solusi

Rektorat Lt.3, ITS Online – Keragaman masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada kenyataannya tidak hanya menyangkut satu sektor pembangunan saja, tetapi juga melibatkan berbagai sektor yang saling mempengaruhi. Permasalahan yang dihadapi ini pada kenyataannya memerlukan pemecahan secara komprehensif dan pada umumnya dilaksanakan melalui hasil penelitian dan pengembangan dari berbagai instansi atau lembaga pemerintah, baik di lingkungan Departemen Pertahanan/TNI, Perguruan Tinggi maupun di lingkungan industri nasional/swasta.

Implementasi dari penelitian itu selalu didiskusikan dalam suatu Forkom Litbang Han (Forum Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan) dan tahun ini ITS ditunjuk menjadi tuan rumah kegiatan Forkom ke-13. Peserta forum yang memenuhi ruang seminar di rektorat lantai 3 ini berasal dari berbagai pihak, diantaranya TNI AD, TNI AL ,TNI AU serta perwakilan dari beberapa PTN seperti ITB, UI, UGM dan tak ketinggalan ITS sebagai tuan rumah.

Agenda Pleno ke-13 ini membahas perencanaan industri strategis dan perguruan tinggi dengan memfokuskan pada masalah sistem teknologi radar. “Sudah sejak tahun 1995, penelitian dan pengembangan teknologi radar ini dikerjakan ITS dan sekarang ini sedang dilakukan uji cobanya,” jelas Dr Ir Achmad Jazidie,M.Eng disela-sela mengikuti forkom. Karena itu, ITS menghadirkan Dr Abdullah Alkaff sebagai pembicara utama pleno ini dan beliau tergabung dalam tim perencana sistem teknologi radar tersebut.

Dalam paparannya, Abdullah menjelaskan panjang lebar seputar teknologi radar yang sedang dipromosikan itu. Saat ini ITS masih terus menggarap sistem radar yang diwujudkan dalam bentuk data dan suara. “Tetapi porsinya lebih banyak yang suara karena lebih terlihat hasilnya dan sangat menarik,” imbuhnya. Pengembangan radar ditujukan pada hal-hal tertentu yaitu untuk standar komunikasi yang rahasia dan untuk jenis peralatan komunikasi lain seperti telepon dan satelit.
Baca lebih lanjut

ITS Ciptakan Silingops TNI AL

Satu lagi karya dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dimanfaatkan untuk angkatan perang. Kali ini ITS membuat Sistem Informasi Lingkungan Operasi (Silingops) TNI AL. Alat ini memudahkan kapal-kapal milik TNI AL yang sedang beroperasi di laut mengirimkan informasi ke markas.

Silingops buatan ITS ini sementara dipakai di wilayah Armada Barat (Armabar) TNI AL. “Sistem ini tersambung mulai dari Markas Besar TNI AL, pangkalan-pangkalan, hingga KRI (Kapal Republik Indonesia),” ujar Ir Bahtiar Hayat Suhesta, Ketua Tim Pembuat Silingops, kemarin.
Baca lebih lanjut

Melindungi Ruang Udara Indonesia

Komando Pertahanan Udara Nasional kembali menampilkan peralatan sistem pengawasan wilayah udara nasional kepada publik. Alat ini sangat membantu Kohanudnas melaksanakan tugas pokoknya sebagai penyelenggara pertahanan dan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional dalam usahanya menjaga segala aset dan kepentingan nasional.

Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) menampilkan peralatan kebanggaannya ini sebagai bagian dari Paviliun TNI AU di pameran akbar Persatuan Nasional di Istora Senayan. Pameran yang berlangsung mulai tanggal 19 hingga 24 Agustus ini memang menampilkan format pameran gado-gado.

Uniknya, masyarakat bisa melihat kecanggihan teknologi pengamatan udara bersebelahan dengan paviliun yang menjual produk obat-obatan atau kerajinan tradisional. Pameran yang dibuka oleh Presiden Megawati ini memang menarik minat banyak pengunjung, mulai dari pelajar taman kanak-kanak hingga para anggota DPR yang terhormat.

Khusus untuk stan Kohanudnas, para pengunjung ini dengan antusias menanyakan bagaimana kejadian sesungguhnya dari insiden Pulau Bawean, saat pesawat-pesawat F-16 Indonesia berhadapan dengan pesawat-pesawat F-18 US Navy di Laut Jawa bulan lalu. Di sini, semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan tuntas dan memuaskan rasa ingin tahu pengunjung.

BANYAK pengunjung pameran belum tahu bahwa operasi pertahanan udara dilaksanakan setiap saat selama 24 jam terus-menerus, dalam kondisi negara terancam ataupun kondisi aman.

Dalam kondisi negara aman, operasi pertahanan udara lebih dititikberatkan pada pengamatan udara, baik oleh radar militer dan radar penerbangan sipil. Namun, dalam situasi di mana negara mendapatkan ancaman, operasi ini dilaksanakan untuk mencegah lawan menerobos masuk wilayah udara Indonesia. Semua sistem senjata mulai dari radar, pesawat penyergap,peluru kendali (rudal) antipesawat, sampai meriam antipesawat udara, disiagakan menghadang pesawat lawan.

Penggelaran Radar Militer saat ini dirasa masih belum mampu mengawasi seluruh wilayah udara Indonesia. Para pakar sistem radar TNI AU mengetahui sistem radar penerbangan sipil secara teknis dapat digunakan sebagai komplemen sistem radar pertahanan udara atau sebaliknya. Namun, mereka juga tahu bahwa fungsi dan protokol data komputer radar dari pabrikan yang berbeda membuat integrasi adalah hal yang tidak mudah.

Baca lebih lanjut